Kisah


Malam itu bagi kami seperti di neraka, panasnya tak tertahankan. Huaaahh! Saat itu aku sedang berbaring di lantai dan menikmati dinginya kipas angis. Tiba-tiba salah satu temanku memanggilku dan berkata “fah, udah pernah baca cerita ini belum?” sambil menyodorkan bukunya. “belum, coba liat” jawabku. Dan ku baca cerita itu, judulnya AKU MENUNGGUMU
Dari judul nya aku pun tertarik, beginilah ceritanya:
“Afwan Ukhti, semoga ini tidak melukai anti dan keluarga anti. Ana pikir sudah saatnya ana memberi keputusan tentang proses kita. Ya sepertinya yang ana ketahui bahwa selama ini ana telah berusaha melobi orang tua dengan beragam cara mulai dari konsep nikah “versi” kita, memperkenalkan anti pada mereka hingga melibatkan orang yang paling ayah percaya untuk membujuk ayah agar mengizinkan ana untuk menikahi anti.”
“Namun hingga sekarang nggak ada tanda-tanda mereka akan melunak, jadi menurut ana.. sebaiknya ana mundur saja dari proses ini!” Dana diam sejenak untuk menunggu respon dari seberang, tapi hingga beberapa detik tidak ada tanggapan. “Perlu anti ketahui bahwa orang tua ana sebenarnya sudah tidak keberatan dengan anti hanya saja waktunya yang belum tepat. Ayah ana khawatir ana tidak mampu menafkahi anti jika belum bekerja. Apalagi anti juga masih kuliah. Jadi ana rasa, kita nggak ada komitmen dulu hingga keadaannya membaik! Anti nggak keberatan kan ukhti!”
“Keberatan….! Alhamdulillah nggak! Namun kalau ana boleh kasih saran, apa tidak lebih baik kalau kita terus melobi sambil tetap proses saja. Soalnya kan kita udah mantap satu sama lain, nggak enak kalau mundur di saat seperti ini. Apalagi permasalahannya sudah mulai mengerucut ke arah ma’isyah (nafkah) saja.
“Anta pasti masih ingat gimana sulitnya start awal kita membujuk orang tua, rasanya semua kriteria kita ditolak. Segala keterbatasan kita jadi aib yang sangat besar, pokoknya semua jalan sepertinya sudah tertutup rapat. Namun kenyataannya hanya dalam waktu 2 minggu kita bisa menghilangkan semua syarat menjadi satu syarat saja: PEKERJAAN!”. Dini gadis tegar itu akhirnya bicara juga. “Akhi.. kita hanya tinggal selangkah, tetaplah berikhtiar dan jangan putus asa. Bukankah Allah Maha membolak-balikkan hati?”. “Benar, ana paham soal itu, ana memang akan tetap melobi orang tua ana, akan tetapi kalau kita terikat, ana khawatir menghalangi anti proses dengan ikhwan lain yang lebih selevel dari ana. Lagi pula ana khawatir tidak bisa menjaga hati”.
“Takut menghalangi ana untuk proses dengan ikhwan lain? Itu kan urusan Allah bukan urusan anta! Kewajiban anta sekarang adalah berjuang mempertahankan sesuatu yang anta sudah mantap dengannya. Hasil istikharah itu nggak mungkin salah. Tinggal bagaimana cara kita mengaplikasikannya saja.” Hening sejenak.. “Ya.. tapi kalau memang akhi sudah merasa ragu terhadap ana dan mantap untuk mundur, Alhamdulillah, Insyaallah ana akan dukung sepenuhnya.”
“Nggak!”Reflek Dana berteriak. “Astagfirullahaladzim, afwan maksud ana, ana sama dengan keluarga ana sudah tidak ada keraguan pada anti, kami sangat menyukai anti dan keluarga anti. Selain itu ana juga takut perasaan ini semakin dalam, ana ini hanya hamba Allah yang dhaif yang masih kesulitan mengekang hawa nafsu”.
Dana berhenti lagi, dadanya terasa sesak, air matanya mengalir semakin deras. Jauh di dalam hatinya, sesungguhnya ia merasa malu pada Allah atas kelalainnya. Jatuh cinta!
“Halo…!!” Dini merasa Dana diam terlalu lama. Dia tidak tahu kalau pemuda itu sedang menangis. Tapi dia mengerti apa yang sedang terjadi padanya. “Ya udah… kalau begitu sekarang kita sepakat untuk membatalkan proses ini!”
Dini sengaja memberi jeda agar Dana bicara, tetapi ikhwan itu memilih terus diam “Akhi.. kita tetap baik ya! Silaturahmi dengan keluarga harus tetap dijaga, jangan suuhzhan pada ayah dan bunda karena bisa jadi keputusan mereka adalah salah satu jalan Allah untuk menguji kita.” Dini berhenti lagi tapi Dana masih enggan berkomentar.
“La Tahzan, ya akhi…. Insyaallah kalau kita niatkan semuanya demi keridhaan Allah, maka Dia akan mencatat bagi kita pahala yang besar. Afwan jika selama proses ta’aruf ini.. ana, teman-teman dan keluarga ana banyak melakukan kekhilafan. Ana mewakili mereka dan diri ana sendiri untuk memohon maaf pada anta. Bersabarlah karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar…” Samar, Dini mendengar isak tangis di seberang. Dia nyaris tidak percaya…
“Semoga ini bisa menjadi mahar cinta kita kepada Allah dan semoga akhi mendapat ganti yang lebih baik.. Amin.” Suara isak tangis makin terdengar jelas.
“Akhi… kalau sudah nggak ada yang perlu dibicarakan lagi, tafadhal diakhiri!” tidak ada tanggapan.
“Halo…!!!. Ya udah, kalau gitu biar ana yang tutup teleponnya ya!” Sepi. Assalamualaikum!.” Klik.
Percakapan di antara mereka berakhir, tapi Dana baru menyadarinya. Dia segera bergegas wudhu’ dan shalat. Jujur, sebenarnya dia sudah sangat mantap dengan mantan calon istrinya itu.. Namun dia tidak yakin dapat membahagiakan akhwat itu kalau dirinya belum bisa menafkahi dengan layak. Padahal Dini dan keluarganya tidak mempermasalahkan tentang hal itu. Mereka sangat welcome padanya. Ah.. mungkin ini sudah takdirnya. Mungkin Allah melihat bahwa akhwat itu terlalu baik untuk dirinya. Mungkin seharusnya akhwat seperti dia, mendapatkan ikhwan yang jauh lebih baik dari dirinya. Dia benar-benar merasa tidak level!
“Ya… ikhwan lemah sepertiku, mana mungkin mendapatkan seorang Dini. Semoga aku nggak akan menyakiti akhwat lain setelah ini”. “Astagfirullahaladzim… apa yang telah kusombongkan selama ini? Sudah ikut mulazamah bertahun-tahun tapi masih belum berani mengamalkan ilmu yang kudapat sedikitpun. Katanya percaya bahwa orang yang menikah pasti akan dijamin rezekinya oleh Allah, ternyata aku nggak lebih dari seorang pengecut!.” Dana tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri, dia benar-benar merasa tak berarti. “Dulu… aku pernah begitu khusyu’ berdoa pada Allah agar dipertemukan dengan akhwat shalihah yang nggak banyak permintaan seperti dia. Sekarang ketika sudah didapat, malah kusia-siakan. Kini aku sadar bahwa Allah selalu mengabulkan permohonan hambaNya. Manusialah yang selalu kufur pada Rabb-nya.”
Di tempat yang berbeda, Dini menjalani hari-harinya dengan penuh semangat. Dia tetap ceria seperti biasanya. Ya… seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Kecewa? Jelas ada, karena Dini juga hanya manusia biasa. Namun dia bisa mengemas kekecewaannya dengan manis, membuat kesedihannya menjadi sesuatu yang lumrah dari proses kehidupan. Dia percaya bahwa hatinya tidak mungkin berbohong dan janji Allah pasti terjadi. Maka sesulit apapun kondisi yang dihadapinya saat itu, dia mencoba untuk tetap terenyum. Jujur, aku bangga padanya. “Aku sudah mantap dengannya, Kak. Aku yakin dialah jodohku. Aku akan terus menunggunya…”
Sepekan kemudian, Dana menitipkan biodata ikhwan lain yang merupakan teman dekatnya untuk diberikan pada Dini. Menurutnya, ikhwan itu bisa membahagiakan Dini karena sudah matang dan punya pekerjaan tetap. Jelas, aku tahu bahwa pendapatnya keliru. Dini bukan mengharap ikhwan yang matang dan mapan. Dia hanya mengikuti kata hatinya saja. Dini tidak akan bahagia hanya dengan harta dan tahta. Namun, tak diurung diterima biodata itu. Dan bisa ditebak, bagaimana reaksi Dini saat kuberikan empat lembar kertas berukuran A4 itu. Dini menggeleng pasti.
“Anti coba istikharahkan dulu. Barangkali semuanya bisa berubah..” bujukku.
“Jazakumullah khair, tapi afwan jangan paksa ana, kak!.”

***
Ikhwah fillah, mungkin sebagian anda akan menganggap Dana sebagaimana penilaian Dana terhadap dirinya sendiri. Pengecut, jahil dan sifat-sifat buruk yang lainnya. Tapi bagi saya, Dana tidaklah seburuk itu. Justru sebaliknya, Dana dalam pandangan saya adalah ikhwan yang hanif. Dia berani mengambil resiko dengan mundur dari proses dan memilih untuk bersabar melawan nafsunya. Padahal kalau dia mau, dengan sikap Dini yang penurut, dia bisa saja minta untuk tetap meneruskan hubungan dengan gadis pilihannya itu. Namun dia tau bahwa diatas segalanya, Allah-lah yang patut untuk lebih dicintai.
Dana yakin bahwa jodoh adalah kekuasaan Allah dan Dia telah menetapkannya 50 ribu tahun sebelum semesta ada. Dia tahu kalau jodoh pasti akan ketemu lagi, bagaimana caranya. Mungkin Dini tidak akan pernah tahu kalau biodata yang kusodorkan kemarin adalah kiriman Dana.
Mungkin Dana juga tidak akan pernah tahu kalau ternyata Dini akan terus menunggunya. Dan mereka juga tidak boleh tahu bahwa diam-diam aku selalu mendoakan kebaikan untuk mereka. Entah bagaimana ending kisah ini nantinya, yang pasti aku selalu berharap agar masing-masing dari mereka nantinya jika tidak berjodoh, mereka akan mendapatkan ganti yang lebih baik.
Segera…
(Sumber: Majalah Keluarga Islami NIKAH)

Begitulah ceritanya kawan.. jujur air mataku mengalir saat membacanya dan aku menangis di depan temanku..😦 ceritanya hampir sama dengan yang ku alami akhir-akhir ini..
Semoga dengan cerita yang ku tulis di atas.. kawan semua termasuk diri ini juga dapat memetik hikmahnya..🙂

Comments on: "Kisah" (2)

  1. Berusahalah untuk mencintai Allah dahulu…
    cintai Rasulnya…
    Lalu cintai keluarga kita…
    lalu carilah jodoh yang baik menurut Allah dan menurutmu…
    dan cintailah keluargamu kelak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: